Bagaimana Kedudukan Antara Agama dan Psikologi Dalam Mengelola Kesehatan Mental? dan Bagaimana Islam Berperan Dalam Kesehatan Mental?

0
42
Sumber gambar Pixabay oleh Sharon Ang
Sumber gambar Pixabay oleh Sharon Ang

Oleh Muna Nurindah Fauziyyah

Pandemi COVID-19 telah membuat sebagian besar pembelajaran di seluruh institusi pendidikan tinggi  Indonesia beralih dari pembelajaran langsung ke pembelajaran online. Dalam waktu singkat, kehidupan mahasiswa telah berubah secara drastis karena mereka diminta untuk meninggalkan kampus, menyesuaikan diri dengan keadaan hidup baru, dan beradaptasi dengan platform pembelajaran online. Peralihan ke pembelajaran online, terutama dalam mata kuliah atau praktikum yang awalnya tidak dirancang untuk penyampaian online kemungkinan telah meningkatkan stres di kalangan mahasiswa. Selain dari aspek perkulihaan, pandemi COVID-19 ini mengakibatkan terciptanya stressor baru, seperti ketakutan dan kekhawatiran tentang kesehatan diri sendiri atau orang yang dicintai, kendala pada pergerakan fisik dan aktivitas sosial akibat karantina, dan perubahan gaya hidup yang secara tiba-tiba. Ketidaktahuan kita tentang kapan berakhirnya pandemi COVID-19 ini mengakibatkan terjadinya stress yang berkelanjutan, dimana paparan stres yang intens ini akan dapat mengganggu kesehatan mental diri kita.

Terganggunya kesehatan mental dapat menimbulkan gangguan mental atau penyakit mental. Jika seseorang mengalami gejala-gejala yang menunjukkan penyakit mental secara terus-menerus dan tidak membaik, maka sebaiknya segera memeriksakan diri ke psikolog atau psikiater, sebagai seseorang yang ahli dalam bidang kesehatan mental, untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut. Hal itu sejalan dengan firman Allah dalam Surat An-Nahl ayat 43.

“Dan Kami tidak mengutus sebelum engkau (Muhammad), melainkan orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kalian tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl:43).

Selain membutuhkan bantuan dari psikolog atau psikiater, penanganan gangguan kesehatan mental tentu juga harus dimulai dari dalam diri sendiri. Hal itu disebabkan karena menurut literatur Choudhry et al. (2016) kesehatan mental adalah aspek keberadaan yang selalu hadir dan ditentukan oleh empat ranah kehidupan, yaitu ranah emosional/ kejiwaan/psikologis, ranah fisik/jasmani/biologis, ranah sosial, dan ranah spiritual (rohani/agama). Keempat aspek tersebut bersifat personal, sehingga usaha penanggulangan gangguan kesehatan mental dapat dilakukan sejak dini oleh yang bersangkutan itu sendiri. 

Dari keempat aspek diatas disebutkan aspek spiritualitas, lalu bagaimana kaitan agama kita agama Islam dengan kesehatan mental? Pandangan Islam tentang gangguan jiwa tidak jauh berbeda dengan pandangan para ahli kesehatan mental pada umumnya. Ajaran Islam memiliki hubungan yang erat dan mendalam dengan ilmu jiwa dalam hal pendidikan akhlak dan pembinaan mental spiritual. Keduanya sama-sama bertujuan untuk mencapai kesejahteraan jiwa dan ketinggian akhlak (supreme morality). Misi ajaran Islam di bidang akhlak dan kejiwaan, serta kekayaan spiritual dari Islam itu sendiri menjadikan keberadaan Islam mempunyai relevansi yang erat dengan kesehatan mental, dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai pedoman hidup. Kedudukan Al-Qur’an sebagai sumber utama ajaran Islam adalah sebagai petunjuk (hudan), obat (syifa’), rahmat, dan pengajaran (mau’izah) bagi manusia dalam membangun kehidupan yang berbahagia di dunia dan di akhirat (Ariadi, 2013).

Lalu bagaimana kita bisa mendapatkan mental yang sehat melalui aspek spiritualitas ini? Amalan – amalan ibadah yang ada di Islam dapat berfungsi sebagai media psikoterapi. Hal ini sejalan dengan literatur Dr. Jalaluddin (2003) dalam bukunya “Psikologi Agama” bahwa kesehatan mental merupakan suatu kondisi batin yang senantiasa berada dalam keadaan tenang, aman dan tentram, dan upaya untuk menemukan ketenangan batin tersebut dapat dilakukan antara lain melalui penyesuaian diri secara resignasi (penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan), dimana sarana bagi umat manusia untuk bisa dekat dengan Sang Pencipta adalah ibadah.  Berdasar literatur Ariadi (2013), berikut adalah beberapa ibadah dalam Islam yang dapat berpengaruh pada psikis (jiwa), sehingga kemudian dapat menjadi media psikoterapi.

  • Shalat

Rasulullah SAW senantiasa mengerjakan shalat ketika ditimpa masalah yang membuat dirinya menjadi tegang. Diriwayatkan oleh Hudzaifah RA bahwa ia berkata; “Jika Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam merasa gundah karena sebuah perkara, maka beliau menunaikan shalat (HR. Abu Dawud). Hal ini tentu mengisyaratkan pentingnya ritual shalat untuk menciptakan rasa tenang dan tentram pada jiwa seseorang. Salat memiliki pengaruh yang sangat efektif untuk mengobati rasa sedih dan gundah yang menghimpit manusia (Utsman, 2004:338). Saat salat didirikan dengan menyempurnakan wudhu, niat yang ikhlas, adab-adab seperti tuma’ninah (tenang sejenak), gerakan tidak terlalu cepat, memahami bacaan salat maka akan mendatangkan kekhusukan dan menjadi terapi tersendiri bagi jiwa. Dengan kata lain, jiwa akan tenang jika shalat dilakukan sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW.

  • Dzikir

Di dalam Al-Qur’an, tidak sedikit ayat-ayat yang menjelaskan tentang kesehatan, salah satunya mengenai ketenangan jiwa (kesehatan mental) yang dapat dicapai melalui dzikir (mengigat) Allah. Allah berfirman dalam QS Ar Ra’ad ayat 28.


“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, Hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram”. (QS. Ar Ra’ad :28).


Rasulullah saw. pernah bersabda: “Tidaklah suatu kelompok yang duduk berzikir melainkan mereka akan dikelilingi oleh para malaikat. Mereka mendapat limpahan rahmat dan mencapai ketenangan. Dan Allah swt akan mengingat mereka dari seseorang yang diterima di sisi-Nya” (HR. Muslim dan Tirmidzi).

  • Membaca Al-Quran

Al-Quran adalah kalamullah yang suci, diturunkan oleh Allah dengan sebagai petunjuk bagi manusia yang membedakan antara hak dan bathil. Membaca Al-Quran disertai mentadabburi setiap bacaan ayat dapat membimbing jiwa agar ikhlas beramal dan tawadhu dalam bersikap sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Quran. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Yunus ayat 57.

“Wahai manusia, sesungguhnya telah datang dari Tuhanmu Al-Quran yang mengandung pelajaran, penawar bagi penyakit batin (jiwa), tuntunan serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS. Yunus : 57).
  • Shaum

Muhammad ‘Utsman Najati (2004: 344) mengatakan, ibadah puasa mengandung beberapa manfaat yang besar, di antaranya menguatkan kemauan dan menumbuhkan kemampuan jiwa manusia dalam mengontrol nafsu syahwatnya. Puasa merupakan sarana latihan untuk menguasai dan mengontrol motivasi atau dorongan emosi, serta menguatkan keinginan untuk mengalahkan hawa nafsu dan syahwat. Selain itu, kesabaran menahan rasa lapar dan dahaga membuat seseorang yang berpuasa merasakan penderitaan orang lain yang serba kekurangan. Sehingga muncul rasa kasih sayang terhadap sesama dan mendorong untuk membantu fakir miskin. Perasaan dan sikap peka secara sosial di masyarakat inilah yang disebutkan ‘Ustman (2004: 346) dapat melahirkan rasa kedamaian dan kelapangan jiwa. Dari sisi psikis, ibadah puasa berguna untuk mengobati perasaan berdosa dan menghilangkan kegundahan. Rasulullah menyatakan dalam sabdanya: “Barang siapa yang menunaikan puasa ramadhan dilandasi dengan iman dan ikhlas mengharap ridha Allah maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, An-Nasa‟i dan Imam Ahmad).

  • Haji

Ibadah haji dapat melatih kesabaran, melatih jiwa untuk berjuang, serta mengontrol syahwat dan hawa nafsu. Ibadah haji menjadi terapi atas kesombongan, arogansi, dan berbangga diri sebab dalam praktik ibadah haji kedudukan semua manusia sama. Permohonan ampunan dan ditambah suasana yang bergemuruh penuh lantunan Ilahi membuat suasana ibadah haji sarat dengan nilai spiritualitas yang dapat mengobarkan rasa semangat yang tinggi untuk meraih ketenangan (‘Utsman, 2004: 348). Ibadah haji akan membawa seseorang mampu bermuhasabah diri guna mencari jati diri seorang hamba yang hakiki. Hakikat seorang hamba adalah senantiasa mengabdikan diri dan kehidupannya untuk Allah semata. Pengabdian dengan keikhlasan itulah yang mengundang curahan rahmat serta ridha-Nya. Jiwa hamba pun akan suci dan tenang.

Dari beberapa pembahasan diataas dapat disimpulkan bahwa, spiritualitas yang dimiliki seseorang memiliki pengaruh terhadap kesehatan mental diri mereka sendiri. Aspek spiritual yang berasal dari pelaksanaan ibadah adalah salah satu cara mendapatkan mental yang sehat. Ibadah-ibadah di dalam Islam, yang dilakukan secara khusyu’ dan sesuai syariat dapat berfungsi sebagai media psikoterapi. Akan tetapi, jika gejala-gejala yang menunjukkan penyakit mental secara terus-menerus dan tidak membaik, sebaiknya segera mencari bantuan psikolog atau psikiater agar mendapatkan pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut. Dengan demikian, ibadah serta bimbingan dari psikolog atau psikiater tetap berjalan bersama sebagai media psikoterapi untuk mendapat mental yang sehat.

Referensi

Ariadi, P. 2013. Kesehatan mental dalam perspektif Islam. Syifa’MEDIKA. 3 (2) : 118-127.

Choudhry, F. R., V. Mani, L.C. Ming, & T.M. Khan. 2016. Beliefs and perception about mental health issues: a meta-synthesis. Neuropsychiatric disease and treatment. 12 : 2807–2818.

Jalaluddin Rakhmat. 2003. Psikologi Agama, sebuah pengantar. PT. Mizan Pustaka, Bandung.

LEAVE A REPLY