IMM UGM : Syirkah Lahir-Batin

0
25
dokumentasi IMM UGM
dokumentasi IMM UGM

Oleh Afghan Azka Falah

Mahasiswa Muhammadiyah adalah sebuah segmen spesifik dari sebuah tatanan masyarakat elite-humanis. Bayang-bayang induk semang organisasi Islam tertua di Indonesia dan eksponen masyarakat terdidik menjadi sebuah komposisi yang keren dalam kebanyakan stigmatisasi publik. Namun disitu juga Mahasiswa Muhammadiyah memiliki beban berkali lipat dalam brand dirinya, yakni menjadi seorang puritan yang memiliki inteligensi tinggi sekaligus andal di masyarakat. Tuntunan ini dapat ditanya sekaligus dijawab dalam partisipasinya dalam sebuah ortom yang didirikan oleh anak kauman, Djazman Al-Kindi yang berpendidikan di almamater Universitas Gadjah Mada, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM).

Dalam implementasi berjalannya sebuah tujuan yang padu, organisasi adalah jawaban mutlaknya. Hilir dari segara keresahan adalah berdirinya sebuah kumpulan, serikat, rapat, syuro dll. Persyarikatan Muhammadiyah menggunakan sebuah diksi yang dalam untuk membangun terminologi organisasinya. Persyarikatan, dari kata syarikah yang bersumber dari syirkah/bersekutu, sehingga apabila kita qurban bersama disebut syirkah, juga apabila kita menyembah sebuah sesembahan (idoltry) selain Allah Azza wa Jalla, maka disebut Syirik. Persyarikatan memiliki makna dimana kita ingin berjuang dengan kendaraan yang disebut Muhammadiyah, maka harus bersedia memberikan hal proporsional untuk melanggengkan kinerja sebuah organisasi dengan baik.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah merupakan sebuah organisasi otonom di bawah lingkup Persyarikatan Muhammadiyah. Otonomi IMM setidaknya diberikan untuk menentukan sebuah sistematika dalam hal administrasi, kaderisasi maupun atribusi. Untuk masalah nilai IMM tidak dibenarkan memiliki idealisme alternatif dari yang diturunkan Persyarikatan Muhammadiyah. Maka dalam pengamalannya IMM dan Ortom lainnya menganggap Muhammadiyah sebagai bapak dan ‘Aisyiyah sebagai ibu mereka. Sifat IMM dalam hal kultural adalah membantu berjalannya dakwah Muhammadiyah di tiap teritori. Agak membingungkan mungkin dalam menentukan teritori IMM apalagi dalam lingkup Muhammadiyah. Semua struktur di Muhammadiyah dan ortom memiliki Jenjang Ranting, Cabang, Daerah, Wilayah dan Pusat sedangkan di IMM memiliki sebuah jenjang kepemimpinan khusus yakni : Pimpinan Komisariat IMM ialah yang berkedudukan di sebuah Perguruan tinggi atau di setiap fakultas; Pimpinan Cabang IMM adalah kumpulan komisariat-komisariat yang menempati teritori di Cabang Muhammadiyah atau Daerah Muhammadiyah; Dewan Pimpinan Daerah IMM adalah kumpulan dari perwakilan tiap Pimpinan Cabang IMM di tingkat Provinsi/Wilayah Muhammadiyah; Yang terakhir adalah Dewan Pimpinan Pusat yang sertingkan Pimpinan Pusat.


Mekanisme Komisariat (Comisariaat) merupakan mekanisme yang dipandang sebagai mekanisme paling tidak spesifik dalam berjalannya sebuah organisasi. Dalam definisi subyek komisariat yakni komisaris memiliki implementasi yang luas bahkan cenderung fleksibel dalam penggunaannya. Penyematan Komisaris secara luas dapat ditemukan di berbagai lini, yakni di partai politik, militer, perusahaan dlsb. Walau halnya di nomenklatur IMM, yang menjadi subyek dalam Pimpinan Komisariat disebut dengan ketua (yang akan dibantu sekretaris dan bendahara) namun esensi komisariat dapat kita renungi lebih dalam. Terbentuknya Komisariat secara AD/ART hendanya minimal memiliki 13 personalia pimpinan. Hal ini sebenarnya adalah langkah sistematis yang memastikan komisariat berjalan stabil dan sustainable. Dalam mekanisme dari pergerakan lain, ada sebuah mekanisme yang disebut Caretaker Komisariat yaknis komisariat (yang umumnya) baru dan belum memiliki cukup personalia untuk beridiri menjadi komisariat. Dalam sistem-sistem diatas, sebenarnya komisariat menjadi sebuah jenjang yang harus dipikirkan lebih. Komisariat, seperti halnya ranting menjadi ujung tombak dan ujung tombok dalam berjalannya sebuah organisasi. Ideologisasi, peningkatan kapasitas, dan pemberdayaan memiliki ruang yang leluasa di komisariat. Sehingga, dalam pandangan penulis, komisariat harus memiliki sifat fleksibel dan fasilitatif.

Pimpinan IMM UGM setidaknya harus memiliki 2 pertanyaan dalam hatinya : “Apakah IMM UGM saya butuhkan?” dan “Apakah IMM UGM membutuhkan saya?”. Pertanyaan ini yang nantinya akan menjadi sebuah batu loncatan amalan-amalan apa saja yang akan dilakukan. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah memang tidak terlihat menggiurkan dalam menjanjikan ini dan itu. Tapi seperti halnya sebuah alat, IMM UGM membutuhkan operator yang dapat menjalankan alat tersebut. Operator ini setidaknya harus tahu, keberuntukan alat ini. Setelah itu mencari tahu bagaimana alat ini  berjalan. Tujuan IMM adalah “Mencetak Akademisi yang Berakhlak Mulia Demi Mewujudkan Tujuan Muhammadiyah.” Kebanyakan, kita Ber-IMM penuh dengan kebingungan, namun anehnya tak sarat akan curiosity.

Pengalaman pribadi penulis melihat IMM banyak dipenuhi Mukhlas, Muhammadiyah Ikhlas. Sayangnya keikhlasan di IMM tidak dibarengan dengan mekanisme sebuah organisasi, yakni profesionalitas. IMM UGM sebagai sebuah organisasi, hendaknya menjadi simulator kita dalam menjalankan profesionalitas. Nomenklatur menghargai sistem yang ada (respect to systems) mudah sekali menjadi sebuah tagline sebuah organisasi internal kampus, baik lembaga dakwah, lembaga eksekutif ataupun lainnya, dimana organisasi tersebut, penulis kira memiliki periodisasi yang sangat terbatas. IMM UGM sudah jelas memiliki  ruang lingkup yang jauh lebih luas dan memiliki basis gerakan yang padu. Selain itu dalam organisasi manapun, manajemen waktu menjadi hal krusial. Sehingga harusnya IMM UGM menjadi organisasi nyata yang diikuti oleh kader Muhammadiyah di perguruan tinggi pertama yang dibangun oleh bangsa Indonesia sendiri.

Menjadi IMM UGM artinya menjadi eksponen yang sangat lengkap. Tri Dharma Perguruan Tinggi bahkan dapat terlampaui. Religiusitas, Intelektualitas ,dan Humanitas menjadi sistematika yang padu dalam membangun Keyakinan, Kecendekiawanan, dan Kerelawanan. Berbakti pada negeri, mengabdi pada Tuhan.

LEAVE A REPLY